AKSI
NYATA BUDAYA POSITIF
MENYUSUN KESEPAKATAN KELAS UNTUK MENUMBUHKAN DISIPLIN POSITIF SISWA
Oleh:
Ni
Kadek Dwiyana Astriani, S.Pd.SD
Calon
Guru Penggerak Angkatan 4
Kabupaten
Karangasem
A. Latar Belakang
Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar dapat berkembang menjadi pribadi kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Menerapkan Budaya positif di sekolah untuk mewujudkan murid-murid yang berbudi pekerti dan berkarakter baik. Budaya positif berkaitan dengan filosofi Pendidikan KHD yaitu pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk menanamkan budaya positif, maka seorang guru hendaknya mampu menuntun dan menjadi teladan dalam membentuk karakter baik siswa di sekolah. Budaya positif merupakan implementasi dari merdeka belajar karena di bangun dari hasil kesepakatan bersama yang berpihak pada murid.
Penanaman budaya positif sangat penting untuk menumbuhkan nilai karakter anak didik. Melalui disiplin positif, anak didik dimotivasi untuk menjadi pribadi yang mereka inginkan dan menghargai diri mereka sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Menanamkan disiplin positif dimulai dari contoh teladan yang diberikan oleh pendidik. Penanaman disiplin positif dapat dilakukan dengan pembentukan dan menyepakati keyakinan kelas bersama anak didik. Pendidik hendaknya mengambil posisi kontrol sebagai manajer dalam membenahi laku siswa yang melanggar keyakinan kelas/sekolah dan menerapkan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah dan memberi kesempatan kepada murid mempertanggungjawabkan perilakunya serta mendukung murid dalam menemukan solusi dari permasalahan peserta didik dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
Dalam
penerapan budaya positif, guru harus mampu menjadi role model dengan posisi sebagai
manager yang lebih menuntun tumbuhnya kesadaran dalam diri murid, bukan karena
berlakunya hukuman/penghargaan. Sebagai langkah awal penerapan budaya positif,
bisa dimulai dengan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang dibangun dari
keyakinan akan lebih memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak
dan lebih bersemangat menjalankan keyakinan. Dari keyakinan kelas inilah
disusun menjadi kesepakatan kelas yang dirancang bersama guru dan siswa.
B. Deskripsi
Aksi Nyata
Langkah awal yang saya
lakukan adalah mendiskusikan rancangan kegiatan aksi nyata dengan kepala
sekolah dan rekan sejawat dan memberikan sosialisasi tentang pentingnya
menyusun kesepakatan kelas. Selanjutnya adalah menyusun kesepakatan dengan
murid. Pada kegiatan menyusun kesepakatan kelas ini guru bertindak sebagai
fasilitator dalam menuntun murid selama kegiatan Menyusun kesepakan kelas
dengan menggunakan kata-kata positif.
Kesepakatan kelas dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Guru menanyakan kepada siswa tentang kelas impian yang mereka impikan
2. Menanyakan cara untuk mencapai kelas impian mereka
3. Siswa menuliskan dan menempelkan ide-ide usulan mereka tentang kesepakatan kelas yang akan dibuat
4. Guru dan siswa merangkum ide-ide siswa menjadi kesepakatan kelas.
5. Setelah disepakati, siswa diberi kesempatan membuat poster kesepakatan kelas yang ditempel di dinding kelas.
6. Guru dan siswa menandatangi kesepakatan kelas yang telah dibuat sebagai wujud komitmen bersama dan menyepakati konsekuensi yang diterima sesuai dengan kesepakatan yang dilanggar.
C. Hasil
Aksi Nyata
Adapun
hasil kegiatan aksi nyata adalah sebagai berikut.
1. Tersusunnya kesepakatan kelas yang merupakan kesepakatan bersama antara siswa dan guru.
2. Siswa dan guru melaksanakan kesepakatan kelas dengan kesadaran dan tanggungjawab
3. Siswa secara konsisten menerapkan disiplin positif melalui pembiasaan-pembiasaan positif di kelas maupun di sekolah.
D. Refleksi
Aksi Nyata
Hal
baik yang didapat dari aksi nyata ini adalah siswa mampu menyampaikan harapan/usul
yang dijadikan kesepatan kelas, siswa disiplin mengikuti pembelajaran,
konsisten menerapkan 5S (Senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), jujur, saling
menghargai dan menyayangi, aktif dan bekerjasama dalam diskusi, bertanggung
jawab dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, pembelajaran lebih
menyenangkan karena siswa terlibat aktif dan percaya diri menyampaikan
ide/pendapat pada saat diskusi kelompok maupun pada saat
presentasi serta siswa menjaga kebersihan di kelas maupun di lingkungan sekolah.
Kendala
yang dihadapi masih ada anak kurang bersemangat dalam menjalankan kesepakatan
kelas dan belum mengumpulkan tugas sesuai waktu yang disepakati. Melihat
kenyataan ini, siswa lain berinisiatif mengingatkan rekannya dan
guru bertindak sebagai motivator dan manajer.
E.
Rencana Perbaikan di Masa Mendatang
Kedepannya kesepakatan kelas yang telah disusun sudah bagus dan dapat direvisi kembali sesuai kebutuhan siswa serta perlu konsisten dalam penerapannya. Penyusunan kesepakatan kelas perlu diimbaskan di kelas-kelas lain agar tercipta disiplin dan budaya positif di kelas dan di sekolah.
G. Dokumentasi Kegiatan







Sangat bagus dan keren
BalasHapus