Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Kamis, 14 Juli 2022

Aksi Nyata-Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 

ARTIKEL

AKSI NYATA MODUL 3.3

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

TAMBAK YOUTUBE

(TAMPILKAN BAKAT MELALUI YOUTUBE)

 

Oleh:

Ni Kadek Dwiyana Astriani, S.Pd.SD

Calon Guru Penggerak Angkatan 4

Kabupaten Karangasem

 


A.  PERISTIWA (FACT)

a.    Latar Belakang

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Setiap anak terlahir dengan potensi dan bakat yang berbeda. Tugas guru adalah menuntun siswa agar mampu menuntun siswa agar mampu mengembangkan bakat yang dimilikinya. Untuk dapat menumbuhkan potensi, bakat, kreativitas, dan kepemimpinan dari murid, guru perlu melakukan berbagai upaya untuk memfasilitasi murid secara tepat dan kreatif sehingga bakat dan potensi yang dimilikinya terakomodir dengan baik sesuai dengan perkembangan mereka. Potensi kepemimpinan murid tidak cukup hanya dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas tetapi juga di luar kelas yaitu melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun kokurikuler untuk memberikan kesempatan yang besar kepada murid untuk mengembangkan potensi, bakat, dan kreativitasnya.

 

SD Negeri 5 Subagan merupakan salah satu sekolah dasar yang berada di Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Sekolah ini terletak di pinggiran kota dengan suasana pedesaan yang nyaman dan aman. Tempatnya sangat strategis, dekat dengan Pantai Jasri, bale masyarakat Jasri, sanggar tari dan metabuh serta memiliki lingkungan yang harmonis penuh kebersamaan, saling peduli, saling support, serta komunikasi dan kolaborasi aktif dengan wali murid. SD Negeri 5 Subagan memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk pengembangan murid maupun sekolah. Potensi yang dimiliki yaitu memiliki kepala sekolah yang kompeten dan selalu mendukung kegiatan positif yang diikuti oleh guru-gurunya untuk pengembangan komunitas sekolah, memiliki jumlah guru yang memadai dan berkualifikasi S1 dan S2 serta bersertifikat pendidik, modal fisik yang memadai, lingkungan sekolah yang kondusif, murid-murid yang memiliki bakat dan potensi yang beragam untuk dikembangkan, serta memiliki lingkungan sekitar sekolah yang mendukung pengembangan bakat dan potensi yang dimiliki murid.

Berdasarkan latar belakang tersebut dan juga mempertimbangkan masukan dari komunitas praktisi di sekolah serta suara dan antusias murid dalam menampilkan bakat yang mereka miliki pada acara perpisahan siswa kelas VI, mendorong terbentuknya program “TamBak Youtube” akronim dari Tampilkan Bakat melalui Youtube. Media youtube dipilih karena media yang saat ini paling digemari dan dapat digunakan sebagai wadah mengekspresikan diri atau unjuk aksi bakat murid yang dapat ditonton kapanpun dan dimanapun. Selain itu, program ini mampu mempromosikan suara, pilihan, dan kepemilikan murid serta mengembangkan bakat yang dimiliki murid

 

b.   Proses Jalannya Aksi Nyata

Program “TamBak Youtube” merupakan program yang berdampak pada murid yang bertujuan mengembangkan bakat dan keterampilan yang dimiliki murid, serta melatih rasa percaya diri murid dalam menampilkan bakat yang dimiliki untuk ditampilkan pada chanel youtube sekolah sebagai wadah mengekspresikan diri atau unjuk aksi dengan mengedepankan kepemimpinan murid dalam mengorganisir sebuah kegiatan sebagai bagian dari upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila. Target program adalah murid kelas 4 sampai dengan kelas 6. Untuk jenis bakat dan kreativitas yang ditampilkan, murid diberikan kebebasan untuk memilih sesuai dengan minat dan bakatnya.

 

Alasan memilih program “TamBak Youtube” yaitu:

1.   Murid-murid di sekolah kami banyak yang memiliki bakat dan potensi untuk dikembangkan, namun selama ini belum banyak diberi ruang untuk berkreasi

2.      Menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan murid.

3.  Tersedianya aset-aset pendukung program terutama modal manusia, modal lingkungan, dan modal sosial.

4.     Media youtube dipilih karena media yang saat ini paling digemari dan dapat digunakan sebagai wadah mengekspresikan diri atau unjuk aksi bakat murid yang dapat ditonton kapanpun dan dimanapun.

 

Hasil aksi nyata yang dilakukan

Pelaksanaan aksi Nyata, saya awali dengan berkoordinasi dengan kepala sekolah sebagai pimpinan terkait program yang dirancang, kemudian berdiskusi dan membangun kesepahaman dengan rekan sejawat tentang program pengembangan bakat murid. Berkoordinasi dan berdiskusi dengan wali kelas terkait dengan pemetaan bakat murid dan melakukan survei untuk mengetahui bakat murid. Selanjutnya mensosialisasikan kegiatan/program kepada murid, menyediakan ruang dialog kepada murid terkait kegiatan/program “TamBak Youtube”, membentuk kelompok kerja perwakilan masing-masing kelas yang akan dilibatkan dalam kegiatan. Berdasarkan kesepakatan bersama siswa, pelaksanaan kegiatan mulai dilakukan siswa setelah pelaksanaan sosialisasi program dengan batas waktu satu minggu untuk membuat video yang menampilkan satu bakat yang paling dikuasai yang bisa dilakukan secara perorangan ataupun berkelompok, kemudian video dikirim kepada wali kelas untuk diupload di youtube sekolah. Hasil program dan dokumentasi kegiatan dapat dilihat pada chanel youtube SD Negeri 5 Subagan.

 

 

c.    Dampak Aksi Nyata

Para murid sangat antusias dalam melaksanakan kegiatan “TamBak Youtube”. Setelah program ini dilaksanakan memberikan dampak positif murid, murid sudah menunjukkan keberanian dan percaya diri untuk tampil, jiwa atau kemampuan dalam memimpin juga muncul, serta munculnya bakat-bakat dan potensi serta keterampilan yang dimiliki murid yang luar biasa dan beragam. Kerjasama dengan wali kelas dan partisipasi seluruh warga sekolah untuk mendukung program atau kegiatan juga sangat baik, sehingga kegiatan berjalan lancar dan sesuai dengan rancangan.

 

Berikut beberapa hasil dari program yang dilaksanakan:










B.  PERASAAN (FEELING)

Perasaan saya saat melaksanakan aksi nyata program “Tambak Youtube” ini adalah ada rasa bangga dan bahagia melihat semangat dan antusias murid mengikuti program ini. Saya bangga kepada murid-murid karena mereka mampu menyampaikan pendapat, pikiran, dan perasaaannya dengan cara yang positif. Saya juga merasa tertantang karena program yang berdampak pada murid harus menekankan pada aspek yang berdampak langsung pada diri murid misalnya muncul kepercayaan diri murid untuk menampilkan bakat yang dimiliki, munculnya kreativitas dan inovasi murid dalam membuat dan mengedit video, kedisiplinan untuk berlatih, kekompakan dan semangat kebersamaan serta  aspek lainya yang bisa menjadi bekal murid untuk kehidupan baik sebagai individu maupun anggota masyarakat. Saya juga menjadi lebih bersemangat karena respon baik dari murid dan juga seluruh warga sekolah. Dengan respon yang baik dari warga sekolah terutama murid, membuat saya ingin terus terlibat dalam pengelolaan program ini agar lebih baik lagi ke depannya dan saya merasa optimis program ini bisa terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

 

C.  PEMBELAJARAN (FINDING)

Pembelajaran yang didapatkan dari aksi nyata program “TamBak Youtube” ini adalah dalam merencanakan program saya bersama rekan sejawat berupaya lebih memperhatikan suara, pilihan, dan kepemilikam murid. Murid diberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan ide atau gagasannya, murid diberikan kesempatan memilih jenis bakat dan keterampilan apa yang akan ditampilkan dan divideokan, murid diberikan tanggungjawab sebagai pelaksana dan pengelolaan kegiatan sehingga harapannya bisa mewujudkan siswa yang kreatif, inovatif, kolaboratif, berani, dan percaya diri. Kepemilikan murid akan terbentuk dengan memberikan kesempatan murid merefleksi dan mengevaluasi kegiatan.

Dari aksi nyata ini, saya mendapatkan banyak pelajaran penting, yaitu program yang dilaksanakan hendak diawali dengan perencanaan yang matang terlebih dahulu dengan melihat berbagai aset yang dimiliki sekolah, sehingga nantinya program dapat berjalan baik dan bisa terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain itu saya menyadari pentingnya kolaborasi dan koordinasi yang baik dari berbagai pihak yang saling mendukung. Program “TamBak Youtube” ini mengajarkan saya pentingnya mengembangkan bakat murid dari sejak kecil dan saya juga belajar bahwa peran guru tidak terbatas pada pembelajaran di kelas, namun harus ikut terlibat dalam mengelola program yang berdampak pada murid. Tentunya program ini masih banyak kekurangan karena terbatasnya waktu murid dalam mempersiapkan diri, masih ada murid yang malu-malu untuk tampil walaupun sebenarnya mereka mampu untuk itu. Hal ini akan diupayakan untuk disempurnakan lagi kedepannya.

 


D. Penerapan ke Depan (Future)

Setelah melaksanakan aksi nyata program “Tambak Youtube” rencana perbaikan ke depan yang akan dilaksanakan adalah menggalakkan kegiatan pengembangan bakat untuk semua murid, tidak hanya untuk murid kelas 4 sampai kelas 6 saja dan diupayakan kreativitas murid lebih bervariasi dan meningkatkan lagi rasa percaya diri siswa. Peran serta murid akan lebih banyak dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan, refleksi, maupun evaluasi kegiatan. Dengan demikian murid akan lebih memiliki program yang dilaksanakan sehingga keterlibatan murid meningkat. Siswa perlu diikutkan dalam kompetisi terkait bakat yang dimiliki sehingga siswa menjadi termotivasi untuk terus mengembangkan bakat yang dimilikinya. Selain itu kedepannya perlu memanfaatkan berbagai aset yang dimiliki sekolah untuk mendukung program sekolah yang mengembangkan bakat dan potensi murid dengan optimal selain itu perlu peningkatan kolaborasi yang baik antara kepala sekolah, wali kelas, rekan sejawat, siswa, dan orang tua siswa untuk peningkatan program yang berdampak pada murid dan memajukan pendidikan.

 

Lampiran Dokumentasi Kegiatan

Berkoordinasi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat terkait dengan program yang dirancang

Melakukan survei minat dan bakat murid

 

Mensosialisasikan program “TamBak Youtube”  dan diberikan kesempatan murid menyampaikan suara, pilihan, dan ikut mengelola kegiatan

Hasil Program “TamBak Youtube”

Senin, 25 April 2022

Modul 3.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI

3.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN 

Oleh :

Ni Kadek Dwiyana Astriani, S.Pd.SD

Calon Guru Penggerak Angkatan 4

Kabupaten Karangasem-Bali

 

Dalam tulisan ini, saya akan memaparkan pemahaman saya akan kaitan antar materi, saya akan membuat rangkuman yang menunjukan koneksi antar materi, baik  Modul Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran maupun kaitannya dengan modul-modul sebelumnya.

1. Bagaimana pandangan Ki Hadjar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran?

Menurut Ki Hadjar Dewantara tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hadjar Dewantara berpandangan, seorang pendidik hanya dapat menuntun kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak, serta memiliki kemampuan dalam menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya mengarahkan bagaimana murid berkembang sesuai karakter, keunikan, serta memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

Pratap Triloka adalah konsep Pendidikan yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru harus selalu berpedoman pada Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Filosofi Pratap Triloka Ing Ngarso Sung Tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ki Hadjar Dewantara berpandangan bahwa sebagai seorang guru harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud Filosofi Pratap Triloka Ing Madyo Mangun Karso dan pada akhirnya guru membantu murid untuk menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan Filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani. 

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kita yakini. Nilai-nilai kebajikan universal yang tertanam akan mengarahkan kita mengambil keputusan, baik dalam situasi dilema etika (benar vs benar) maupun bujukan moral ( benar vs salah). Keputusan tepat yang diambil merupakan muara dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan. Nilai-nilai positif akan mengarahkan seseorang untuk mengambil keputusan dengan resiko sekecil-kecilnya agar tidak merugikan banyak orang, mampu mengakomodasi pihak yang bertentangan dan berpihak pada peserta didik serta dapat dipertanggungjawabkan. Guru yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral akan mengambil keputusan yang tidak bertentangan dengan moral atau hukum dan mengutamakan nilai kemanuasiaan atau kepedulian.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan “coaching” (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah diambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masih ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi “coaching” yang telah dibahas pada modul 2 sebelumya. 

Coaching adalah keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita akan dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendanping dan fasilitator membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak pada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut dapat dipertanggungjawabkan. TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru memiliki keterampilan coaching. Hal ini mengingat tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka dan menemukan sendiri solusi dari permasalahan yang dihadapinya dan mengatasi masalah dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan? 

Kompetensi sosial dan emosional sangat berpengaruh terhadap keputusan yang diambilnya.  Guru yang mampu mengelola diri dengan baik, akan fokus melakukan kesadaran penuh dalam mengontrol dirinya dan memberikan pembelajaran serta dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak serta akan mempertimbangkan dampak yang akan diakibatkannya. Jika kesadaran sosial guru baik, maka guru akan merasakan kondisi yang dialami orang lain, sehingga keputusan yang diambil memperhatikan empati. Guru yang memiliki kemampuan berelasi, akan mampu mengelola tugas dengan rekan sejawat dan membangun hubungan dengan murid dan masyarakat. Keterampilan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab sangat penting dalam melakukan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran agar keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. 

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut oleh pendidik. Guru yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral akan mengambil keputusan yang tidak bertentangan dengan moral atau hukum. Nilai-nilai kebajikan yang diyakini guru juga mempengaruhi keputusan yang diambil dalam situasi dilema etika. Melalui 9 langkah pengujian keputusan, seorang guru akan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang ada dalam dirinya sehingga sangat penting meningkatkan nilai -nilai kebajikan dalam diri seorang guru agar mampu mengambil keputusan sesuai dengan norma, memperhatikan nilai kemanusiaan, berdampak jangka panjang dan dapat dipertanggungjawabkan.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat bersumber dari nilai-nilai kebajikan universal yang diyakini bersama. Pengambilan keputusan yang tepat akan mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang terlibat, bermanfaat bagi orang banyak, tidak melanggar hukum, memenuhi keadilan serta berpengaruh jangka panjang. Pengambilan keputusan pada dilemma etika dilakukan dengan menenentukan terlebih dahulu paradigmanya kemudian prinsip pengambilan keputusan serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dengan langkah tersebut akan diperoleh keputusan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan yang terlibat, tidak melanggar hukum, dan akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilemma etika ini? Apakah ini Kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda? 

Beberapa kesulitan yang muncul di lingkungan saya ketika melaksanakan pengambilan keputusan adalah pertentangan kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat, sikap ingin menang sendiri dari pihak yang terlibat dan kurangnya rasa empati dan kurang menghargai perasaan orang lain,lebih mementikan dampak jangka pendek serta tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan bersama. Masalah perubahan paradigma yang sudah lama dilakukan memerlukan tekad yang kuat, konsistensi dan kolaborasi semua pihak untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan dengan tepat, dapat mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang terlibat, berdampak jangka panjang serta dapat dipertanggungjawabkan. 

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Keputusan yang diambil dengan memerdekakan murid dalam pembelajaran adalah keputusan yang tepat. Memerdekakan murid dalam belajar akan mengasah potensi murid dengan optimal. Kita sebagai pemimpin pembelajaran memberikan ruang kepada murid untuk menggali potensinya misalnya dengan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Jika murid memiliki masalah kita dapat melakukan teknik coaching model TIRTA dalam membantu murid menemukan sendiri solusi dari permasalahan yang dihadapi dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Murid diberi ruang untuk mengembangkan potensi dan bakatnya, maka akan dapat memerdekakan murid dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? 

Sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara, seorang pemimpin pembelajaran harus melakukan pengambilan keputusan yang mengutamakan pengembangan potensi murid sesuai dengan kebutuhan belajarnya dan pengembangan potensi murid juga memperhatikan dan mengikuti perkembangan zaman. Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid seperti melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dan membiasakan melakukan coaching maka murid-murid akan belajar menjadi orang yang merdeka, kreatif, inovatif, dalam mengambil keputusan yang menentukan masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan, dan cermat dalam mengambil keputusan penting bagi kehidupan atau masa depannya.

10. Apa kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul sebelumnya yang telah dipelajari sebelumnya, merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk memerdekaan murid dalam belajar. Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam proses pendidikan guru hendaknya menggali kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Dalam proses pembelajaran, baik guru maupun murid akan menghadapi kondisi yang mengharuskan memiliki kemampuan mengelola emosi, membangun dan mepertahankan hubungan positif, merasakan empati kepada orang lain, dan membuat keputusan yang bertanggungjawab. Untuk itulah guru perlu menerapkan kompetensi sosial dan emosional dalam pembelajaran maupun kegiatan-kegiatan di sekolah. Pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah yang mengutamakan kesepakatan bersama dan disiplin positif yang akan menjadi budaya positif di sekolah. Warga sekolah yang memiliki permasalahan dapat dibantu melalui coaching. Keterampilan coaching dapat membantu murid maupun rekan sejawat dalam mencari solusi atas permasalahannya sendiri dengan menggali potensi yang dimiliki untuk dapat menyelesaikan sendiri permasalahan yang dihadapi. Untuk dapat mewujudkan profil pelajar Pancasila ada banyak permasalahan dilemma etika yang akan ditemui sehingga diperlukan pengetahuan tentang 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk dapat mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dan berpihak pada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

Minggu, 30 Januari 2022

Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif

 

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF

MENYUSUN KESEPAKATAN KELAS UNTUK MENUMBUHKAN DISIPLIN POSITIF SISWA

 

Oleh:

Ni Kadek Dwiyana Astriani, S.Pd.SD

Calon Guru Penggerak Angkatan 4

Kabupaten Karangasem

 

 

A.  Latar Belakang

Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar dapat berkembang menjadi pribadi kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Menerapkan Budaya positif di sekolah untuk mewujudkan murid-murid yang berbudi pekerti dan berkarakter baik. Budaya positif berkaitan dengan filosofi Pendidikan KHD yaitu pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara untuk menanamkan budaya positif, maka seorang guru hendaknya mampu menuntun dan menjadi teladan dalam membentuk karakter baik siswa di sekolah. Budaya positif merupakan implementasi dari merdeka belajar karena di bangun dari hasil kesepakatan bersama yang berpihak pada murid.

Penanaman budaya positif sangat penting untuk menumbuhkan nilai karakter anak didik. Melalui disiplin positif, anak didik dimotivasi untuk menjadi pribadi yang mereka inginkan dan menghargai diri mereka sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Menanamkan disiplin positif dimulai dari contoh teladan yang diberikan oleh pendidik. Penanaman disiplin positif dapat dilakukan dengan pembentukan dan menyepakati keyakinan kelas bersama anak didik. Pendidik hendaknya mengambil posisi kontrol sebagai manajer dalam membenahi laku siswa yang melanggar keyakinan kelas/sekolah dan menerapkan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah dan memberi kesempatan kepada murid mempertanggungjawabkan perilakunya serta mendukung murid dalam menemukan solusi dari permasalahan peserta didik dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.

Dalam penerapan budaya positif, guru harus mampu menjadi role model dengan posisi sebagai manager yang lebih menuntun tumbuhnya kesadaran dalam diri murid, bukan karena berlakunya hukuman/penghargaan. Sebagai langkah awal penerapan budaya positif, bisa dimulai dengan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang dibangun dari keyakinan akan lebih memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan lebih bersemangat menjalankan keyakinan. Dari keyakinan kelas inilah disusun menjadi kesepakatan kelas yang dirancang bersama guru dan siswa.


B.  Deskripsi Aksi Nyata

Langkah awal yang saya lakukan adalah mendiskusikan rancangan kegiatan aksi nyata dengan kepala sekolah dan rekan sejawat dan memberikan sosialisasi tentang pentingnya menyusun kesepakatan kelas. Selanjutnya adalah menyusun kesepakatan dengan murid. Pada kegiatan menyusun kesepakatan kelas ini guru bertindak sebagai fasilitator dalam menuntun murid selama kegiatan Menyusun kesepakan kelas dengan menggunakan kata-kata positif.  Kesepakatan kelas dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Guru menanyakan kepada siswa tentang kelas impian yang mereka impikan

2. Menanyakan cara untuk mencapai kelas impian mereka

3. Siswa menuliskan dan menempelkan ide-ide usulan mereka tentang kesepakatan kelas yang akan dibuat

4.  Guru dan siswa merangkum ide-ide siswa menjadi kesepakatan kelas.

5. Setelah disepakati, siswa diberi kesempatan membuat poster kesepakatan kelas yang ditempel di dinding kelas.

6. Guru dan siswa menandatangi kesepakatan kelas yang telah dibuat sebagai wujud komitmen bersama dan menyepakati konsekuensi yang diterima sesuai dengan kesepakatan yang dilanggar.


C.  Hasil Aksi Nyata

Adapun hasil kegiatan aksi nyata adalah sebagai berikut.

1. Tersusunnya kesepakatan kelas yang merupakan kesepakatan bersama antara siswa dan guru.

2. Siswa dan guru melaksanakan kesepakatan kelas dengan kesadaran dan tanggungjawab

3. Siswa secara konsisten menerapkan disiplin positif melalui pembiasaan-pembiasaan positif di kelas maupun di sekolah.

 

D.      Refleksi Aksi Nyata

Hal baik yang didapat dari aksi nyata ini adalah siswa mampu menyampaikan harapan/usul yang dijadikan kesepatan kelas, siswa disiplin mengikuti pembelajaran, konsisten menerapkan 5S (Senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), jujur, saling menghargai dan menyayangi, aktif dan bekerjasama dalam diskusi, bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, pembelajaran lebih menyenangkan karena siswa terlibat aktif dan percaya diri menyampaikan ide/pendapat pada saat diskusi kelompok maupun  pada saat presentasi serta siswa menjaga kebersihan di kelas maupun di lingkungan sekolah.

Kendala yang dihadapi masih ada anak kurang bersemangat dalam menjalankan kesepakatan kelas dan belum mengumpulkan tugas sesuai waktu yang disepakati. Melihat kenyataan ini, siswa lain berinisiatif mengingatkan rekannya dan guru bertindak sebagai motivator dan manajer.


E.       Rencana Perbaikan di Masa Mendatang

Kedepannya kesepakatan kelas yang telah disusun sudah bagus dan dapat direvisi kembali sesuai kebutuhan siswa serta perlu konsisten dalam penerapannya. Penyusunan kesepakatan kelas perlu diimbaskan di kelas-kelas lain agar tercipta disiplin dan budaya positif di kelas dan di sekolah.

G. Dokumentasi Kegiatan