Organisasi Profesi Guru

Presiden Jokowi memberi hormat kepada Guru-Guru se Indonesia.

Tema Gambar Slide 2

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Tema Gambar Slide 3

Deskripsi gambar slide bisa dituliskan disini dengan beberapa kalimat yang menggambarkan gambar slide yang anda pasang, edit slide ini melalui edit HTML template.

Senin, 01 November 2021

1.1.a.9 Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara


Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: “menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara  merupakan daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Ki Hajar Dewantara  memberikan pedoman dalam menciptakan kultur positif dan karakteristik seorang pendidik. Melalui semboyan Trilogi pendidikan yakni  Ing ngarso sung tulodo (di depan, seorang pendidik atau guru harus dapat memberi teladan atau contoh tindakan baik), ing madya mangun karso (di tengah atau di antara murid, guru harus menumbuhkan semangat dalam hal menciptakan prakarsa dan ide), dan tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan).

Untuk mencapai tujuan pendidikan maka Ki Hadjar Dewantara memilih metode Among yang juga dikenal dengan metode pengajaran  dan pendidikan berdasarkan asih, asah, dan asuh. Keberhasilan tujuan pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat yang dikenal dengan Tri Sentra Pendidikan untuk membentuk manusia yang unggul, berbudi pekerti dan cerdas. Dimulai dari dari rumah sebagai pondasi pertama dan utama, selanjutnya dilaksanakan disekolah dan di lingkungan masyarakat yang kondusif. Pendidikan itu bukan untuk merubah kodrat manusia, namun pendidikan itu lebih kepada membantu peserta didik untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam diri. Hal ini dianalogikan sebagai petani yang akan menanam bibit. Sebagus apapun bibit yang dimiliki tanpa dilakukan perawatan, pemeliharaan yang maksimal maka tidak akan bisa menghasilkan tanaman yang berkualitas. Begitupun sebaliknya walaupun berasal dari bibit yang kurang bagus namun kalau diberikan perawatan maka akan bisa menghasilkan tanaman yang berkualitas. Begitupun halnya dengan guru dan murid. Guru memiliki andil yang besar dalam mewujudkan profil murid di masa mendatangnya.


Selama ini saya percaya dan beranggapan bahwa murid adalah sebuah kertas kosong yang dapat kita tulisi sesuai dengan keinginan guru, serta pembelajaran adalah suatu proses dari yang tidak tahu menjadi tahu atau dari yang tidak bisa menjadi bisa. Setidaknya itu yang saya percaya mengenai pemikiran peserta didik dan juga pembelajaran sebelum saya mempelajari Modul 1.1. Pemikiran ini terus melekat dalam pikiran saya sampai beberapa waktu lalu dan ini mempengaruhi pola mengajar saya selama ini sehingga terjadi kecenderungan pembelajaran yang tidak memberikan “kebebasan” kepada siswa serta pembelajaran yang terjadi cenderung berpusat pada guru (Teacher Center), pembelajaran lebih banyak di dominasi oleh guru sebagai pengajar menyebabkan kurangnya aktivitas yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeksplorasi pengetahuannya, serta kurangnya pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.


Namun, setelah saya mempelajari modul 1.1, saya menyadari pemikiran saya tentang murid dan pembelajaran selama ini kurang tepat. Saya menjadi mengetahui dan memahami inti dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa peserta didik bukanlah kertas kosong melainkan peserta didik diibarat kertas yang sudah ditulisi samar-samar dan tugas kita sebagai guru mempertegas tulisan tersebut. Tulisan samar tersebut adalah kodrat peserta didik yang sudah ada sejak mereka lahir. Setiap peserta didik adalah individu yang unik dan sudah memiliki karakteristiknya masing-masing, baik dari segi bakat, minat, tingkat kognitif, sosial, dan karakteristik lainnya. Tentu dengan adanya kondisi ini, sebagai pendidik kita tidak bisa memberikan perlakukan yang “sama persis” untuk setiap peserta didik namun sudah seharusnya kita memperhatikan karakteristik masing-masing peserta didik.  Dengan menyadari hal ini saya berpikir untuk tidak memaksakan anak untuk menjadi seperti yang kita inginkan melainkan saya harus membimbing dan menuntun peserta didik agar tidak kehilangan arah dan tujuan pembelajaran. Dengan harapan peserta didik dapat menggapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.  Dalam pembelajaran saya akan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada anak dan memberi ruang pada anak agar anak dapat berkarya dan berekspresi dengan tuntunan yang saya berikan .

 

Berdasarkan pemahaman di atas, hal yang bisa segera saya terapkan lebih baik dalam proses pembelajaran di kelas agar mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah dengan menerapkan metode among, dalam artian pendidikan dan proses pembelajaran bukan merupakan suatu paksaan namun lebih ke arah ‘menuntun’, dimana anak diberi kebebasan sesuai dengan tahap berpikir dan karakteristik mereka, namun pendidik berperan sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Dengan adanya sistem pembelajaran tatap muka terbatas yang berlangsung akibat Pandemi Covid-19 sekarang ini hal yang dapat saya terapkan untuk memberikan proses pembelajaran yang menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah dengan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada anak, memberikan ruang agar anak dapat berkarya dan berekspresi serta memberikan kebebasan yang “terbatas” kepada siswa terkait penggunaan sumber belajar, metode belajar, dan juga mengintegrasikan nilai-nilai karakter. Kebebasan dalam memilih sumber belajar misalnya dilakukan dengan memberikan kebebasan kepada siswa untuk menggunakan sumber belajar yang mereka temui, atau dapat dilakukan dengan memberikan beberapa sumber belajar yang relevan yang dapat dipilih oleh peserta didik, kemudian memberikan kuosioner kepada siswa yang berisikan poin-poin karakteristik siswa terkait gaya belajar, media yang ingin digunakan dalam proses pombelajaran, jenis kegiatan belajar yang mereka pilih, dan juga penyampaian gagasan mereka terkait proses pembelajaran yang telah dilakukan. Hal ini menjadi penting untuk dilakukan sebagai bahan refleksi untuk proses pembelajaran selanjutnya. Dengan proses pembelajaran seperti ini diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan yaitu mewujudkan generasi yang mandiri, penuh daya kreasi, dan berbudi pekerti mulia. Selain itu saya akan segera menerapkan pembelajaran yang dapat mengembangkan bakat dan potensi peserta didik. Saya akan menuntun segala kodrat yang ada pada anak, memberikan semangat dan dorongan agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.